FaceApp Palsu Tipu Lebih Dari 10 Ribu Warga Indonesia

Rabu, 31 Jul 2019 | 15.00 WIB

FaceApp Palsu Tipu Lebih Dari 10 Ribu Warga Indonesia

ilustrasi (pixabay)


Centroone.com - Aplikasi FaceApp beberapa waktu lalu sempat jadi tren di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia.  Dalam waktu singkat linimasa media sosial dipenuhi dengan foto-foto orang dengan perubahan wajahnya yang sekarang dan versi tuanya.  

Popularitas FaceApp rupanya mengundang para scammer untuk mengambil keuntungan dalam waktu singkat. Peneliti ESET membongkar sebuah skema penipuan yang membonceng popularitas FaceApp menggunakan versi “Pro” sebagai umpan untuk memancing pengguna. Namun sayangnya banyak media menggunakan kata FaceApp Pro sebagai rujukan padahal aplikasi tersebut merupakan versi palsu.

Penjahat siber akan mencoba berbagai cara untuk mengeksploitasi semaksimal mungkin demam  FaceApp, salah satunya dengan menyebarkan berita tentang versi fiktif berbahaya ini. Dalam pencarian Google menggunakan kata kunci “FaceApp Pro” hasilnya mencapai lebih dari 69 juta artikel.   Dari hasil riset ESET  - salah satu metode penipuan yang digunakan adalah melalui website palsu yang menawarkan versi "Premium" FaceApp secara gratis, hal ini akan menarik, karena biasanya perangkat lunak Premium selalu berbayar.

Pada kenyataannya, scammer mengelabui korbannya untuk mengklik penawaran yang tak terhitung jumlahnya untuk menginstal aplikasi lain dan langganan berbayar, iklan, survei, dan sebagainya. Korban juga menerima permintaan dari berbagai situs yang meminta menampilkan notifikasi. Ketika diaktifkan, pemberitahuan ini menyebabkan penawaran penipuan lebih lanjut.

Selama pengujian ESET, biasanya berakhir pada versi gratis FaceApp seperti yang tersedia di Google Play. Bedanya, pengunduhan tidak dilakukan di Google Play melainkan dari layanan populer file sharing mediafire.com. Ini berarti pengguna bisa dengan mudah berakhir mengunduh berbagai jenis malware jika itu adalah niat para pejahat siber. 

Terlepas semenarik apa pun setiap segala sesuatu yang terkait dengan hype di dunia maya, ESET selalu menyarankan untuk menghindari mengunduh aplikasi dari sumber selain toko aplikasi resmi, dan memeriksa informasi yang tersedia tentang aplikasi seperti, developer, peringkat, ulasan, dan lain sebagainya. Terutama di ekosistem Android, karena selalu ada versi palsu untuk setiap aplikasi populer atau permainan. 

“Dunia maya memiliki dua sisi yang berlawanan, sesuatu yang kita anggap menyenangkan ternyata bisa membahayakan. Berdasarkan pengalaman, Hyper pasti menarik scammers, dan semakin besar sensasinya, maka semakin tinggi risiko korban penipuan jatuh. Karena itu pastikan setiap kali bergabung dalam suatu hype, pengguna harus ingat untuk tetap pada prinsip-prinsip dasar keamanan seperti selalu mengunduh apps di tempat resmi yang telah disediakan.” Ujar IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh.  by